Playdate Literasi Refleksi Relima pada Hari Kunjung Perpustakaan
Tanggal 14 September 2025 menjadi hari yang berkesan. Bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan,
Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Lokus Kabupaten Sintang menginisiasi
sebuah kegiatan sederhana namun penuh makna : Playdate literasi. Kegiatan ini
berkolaborasi dengan komunitas Read Aloud dan tentu saja tidak lepas dari dukungan
perpustakaan daerah yang selama ini menjadi rumah besar gerakan literasi di
Sintang. Adapun kegiatan yang
dilaksanakan adalah membacakan nyaring buku yang merupakan buku bantuan bacaan
bermutu dilanjutkan dengan bookish play.
Kegiatan ini diinisasi dalam rangka menyederhanakan bentuk
kegiatan kampanye literasi agar mudah dicerna masyarakat dan dapat dinikmati
dengan proses yang hangat. Menyasar anak
dan orangtua sebagai peserta kegiatan ini mencoba menyuguhkan kegiatan sederhana
pada masyarakat bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca huruf di atas
kertas. Lebih jauh dari itu, literasi adalah keterampilan memahami, mengolah,
dan memaknai informasi yang kita temui setiap hari. Ia adalah pintu menuju
pengetahuan, kesadaran, bahkan martabat suatu bangsa. Karena itulah literasi
tidak boleh berhenti hanya menjadi jargon, tetapi harus menjadi bagian hidup
masyarakat sehari-hari. Untuk itu
kegiatan literasi harus dikemas sederhana dan penuh manfaat untuk masyarakat.
Fakta menunjukkan jalan kita masih panjang. Indeks Pembangunan
Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Sintang pada 2023 baru mencapai 41,65%,
jauh di bawah target 71%. Padahal, tingkat kegemaran membaca masyarakat sudah
berada di angka 70,26%. Angka-angka ini memperlihatkan kesenjangan: minat ada,
tapi akses, sarana, dan dukungan masih terbatas. Maka, dibutuhkan ruang-ruang
kreatif yang bisa menjadi jembatan antara semangat membaca dengan kesempatan
nyata untuk menikmati bacaan.
Perpustakaan bukan lah sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku,
melainkan pusat kegiatan masyarakat. Perpustakaan tidak bisa berjalan sendiri.
Ia butuh dukungan, salah satunya melalui relawan literasi yang menjembatani
buku dengan masyarakat. Itulah peran yang saya coba jalankan sebagai Relima.
Tugas ini memang tidak mudah, tetapi di situlah letak indahnya: menjadi
bagian dari gerakan yang menyalakan cahaya kecil di tengah keterbatasan.
Kegiatan playdate literasi pada Hari Kunjung Perpustakaan kemarin
menjadi contoh nyata bagaimana sebuah inisiatif sederhana dapat membawa dampak.
Anak-anak duduk melingkar, mendengarkan cerita yang dibacakan dengan penuh
ekspresi melalui metode read aloud. Ada 56 anak didampingi orangtua menghadiri
kegiatan tersebut berbahagia menikmati buku dan berkegiatan Bersama.
Lebih membahagiakan lagi, para orang tua, terutama para ibu ikut
larut dalam suasana. Mereka menyadari bahwa membaca nyaring bukan hanya untuk
mengisi waktu, tetapi juga sarana membangun kedekatan emosional dengan anak.
Dari kegiatan ini, mereka mendapatkan pengalaman baru bahwa literasi bisa
tumbuh dari momen kebersamaan yang hangat, bukan sekadar aktivitas akademik
yang kaku.
Menjadi relawan literasi bukan tanpa tantangan. Ada tiga hal yang
paling saya rasakan selama ini. Pertama, keterbatasan akses. Tidak semua
kecamatan di Sintang memiliki perpustakaan atau TBM yang memadai. Kedua,
keterbatasan dana. Banyak kegiatan literasi berjalan atas dasar swadaya atau
kreativitas tanpa dukungan anggaran memadai. Ketiga, literasi belum sepenuhnya
dipandang sebagai prioritas pembangunan. Akibatnya, alokasi anggaran daerah
untuk perpustakaan dan kegiatan literasi masih sangat terbatas. Namun, dari setiap tantangan itu selalu ada
pembelajaran. Saya belajar bahwa gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri,
ia membutuhkan kolaborasi. Saya belajar bahwa keterbatasan justru sering kali
melahirkan kreativitas. Dan yang terpenting, saya belajar bahwa meski perubahan
besar membutuhkan waktu, langkah kecil bisa membuka jalan.
Kegiatan playdate literasi kemarin memberi saya harapan baru.
Melihat anak-anak yang antusias, para ibu yang semangat mendampingi, serta
suasana perpustakaan yang hidup, saya percaya bahwa literasi bisa tumbuh dari
gerakan kecil di tengah masyarakat. Literasi inklusif berarti semua orang,
tanpa kecuali, punya hak untuk menikmati bacaan bermutu dan mengembangkan
dirinya.
Ke depan, saya sebagai Relima berkomitmen untuk:
- Terus mengembangkan kegiatan literasi kreatif yang bisa
menjangkau banyak kalangan.
- Menjalin kolaborasi dengan sekolah, komunitas, organisasi
perempuan, hingga lembaga keagamaan.
- Mengadvokasi pentingnya literasi agar mendapat perhatian lebih
dalam kebijakan dan anggaran daerah.
- Menjangkau kelompok rentan seperti anak-anak di pedalaman dan
keluarga kurang mampu dengan pendekatan humanis.
Saya percaya, literasi adalah warisan terbaik untuk generasi
mendatang. Jika setiap anak tumbuh bersama buku, setiap orang tua merasa dekat
dengan bacaan, dan setiap komunitas menganggap perpustakaan sebagai rumah
bersama, maka cita-cita literasi inklusif bukan hanya mimpi. Ia akan menjadi
kenyataan yang memperkuat martabat bangsa, termasuk di Kabupaten Sintang.

Komentar
Posting Komentar